Selasa 22 Nov 2022 13:17 WIB

Marak Masyarakat Tertipu Investasi Ilegal, OJK: Pendidikan Formal Minim

OJK sebut investasi ilegal tumbuh karena adanya permintaan masyarakat

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam Lumban Tobing. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut tingkat pemahaman masyarakat terkait keuangan dan investasi masih perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat investasi ilegal masih marak di tengah masyarakat.
Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang
Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam Lumban Tobing. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut tingkat pemahaman masyarakat terkait keuangan dan investasi masih perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat investasi ilegal masih marak di tengah masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut tingkat pemahaman masyarakat terkait keuangan dan investasi masih perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat investasi ilegal masih marak di tengah masyarakat.

Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Tongam L Tobing mengatakan saat ini tingkat pendidikan formal juga tidak berbanding lurus dengan tingkat literasi keuangan, karena yang tertipu juga sangat banyak."Investasi ilegal bagaimanapun juga masih akan marak, karena masih ada masyarakat yang mau ditipu," ujarnya dikutip Senin (21/11/2022).

Tongam mengibaratkan investasi ilegal seperti suplai dan kebutuhan. Menurutnya, dari sisi suplai yaitu para pelaku investasi ilegal yang masih berkeliaran karena ada kebutuhan dari masyarakat yang masih mau ditipu.

"Masih marak, karena pelaku dengan kemajuan teknologi informasi saat ini sangat mudah bagi membuat situs website, aplikasi dan penawaran media sosial yang sangat mudah diterima masyarakat," ucapnya.

Kemudian, penawaran yang dilakukan lintas negara dari luar negeri yang sangat mudah diterima dari sisi pelaku. Dari sisi masyarakat masih ada kecenderungan yang sangat mudah tergiur dengan imbal hasil tinggi.

"Ditawarkan bunga satu persen ikut, cepat dapat mobil dan rumah (ikut)," ucapnya.

Menurutnya beberapa waktu lalu ada platform binary option sangat mudah diterima masyarakat, padahal terdapat judi berkedok trading. Di sana juga, masyarakat diminta menebak suatu aset tertentu pada harga dan waktu tertentu."Naik atau turun ini judi namanya tapi banyak yang tergiur," ucapnya.

Selain itu, robot trading juga dibungkus dengan menjual suatu barang, seperti Net 89 yang menjual e-book meski dasarnya melakukan investasi. Ada pula Viral Blast, Fahrenheit, DNA Pro yang meminta masyarakat untuk menyalurkan suatu deposit margin yang diperdagangkan dan memberi keuntungan sampai 15 persen per bulan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement