Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Indef Ingatkan Gejolak Kondisi Global Berpotensi Tekan APBN

Jumat 24 Jun 2022 17:45 WIB

Red: Nidia Zuraya

Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). ilustrasi

Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). ilustrasi

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Konflik geopolitik mengakibatkan krisis energi kenaikan harga minyak dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan kondisi global saat ini yang sedang bergejolak berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Gejolak kondisi global yang dimaksud yakni pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia, konflik geopolitik Rusia dan Ukraina, kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, dan kebijakan Zero Covid-19 atau penguncian ketat di China.

"Misalnya konflik geopolitik mengakibatkan krisis energi kenaikan harga minyak dunia, akibatnya pemerintah harus mengubah salah satu asumsi APBN yaitu harga minyak," ujar Direktur Program Indef Esther Sri Astuti kepada Antara di Jakarta, Jumat (24/6/2022).

Baca Juga

Ia menjelaskan asumsi harga minyak Indonesia disesuaikan dengan kenaikan harga minyak global, akibatnya pengeluaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) di APBN juga akan naik.Demikian pula dengan dampak kenaikan suku bunga Fed yang akan menarik investor menanamkan modalnya ke Negeri Paman Sam, sehingga dolar AS akan menguat terhadap rupiah.

Sebagai akibatnya, asumsi nilai tukar dalam APBN juga harus diubah, serta berpengaruh pada pengeluaran dan penerimaan anggaran dalam kas negara.Menurut Esther, kenaikan pengeluaran anggaran di APBN tentunya akan memperkecil ruang fiskal pemerintah.

"Akibatnya, pertumbuhan ekonomi pun akan melambat karena anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pembangunan berkurang," ujarnya.

Dengan berbagai risiko global yang ada saat ini, dirinya memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 hanya akan tumbuh dalam kisaran empat persen pada tahun ini, angka tersebut di bawah target pemerintah yang sebesar 5,2 persen.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA