Selasa 21 Jun 2022 00:32 WIB

Berdayakan MBR, Pemkot Surabaya Kembangkan Rumah Padat Karya

Pemkot Surabaya saat ini getol memberdayakan MBR melalui pemanfaatan aset

Warga belajar menjahit di Rumah Padat Karya di Jalan Kyai Abdullah No 17, Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/5/2022). Pemkot Surabaya menggunakan aset sejumlah bangunan miliknya menjadi Rumah Padat Karya yang difungsikan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan membuka sejumlah unit usaha serta melakukan pelatihan-pelatihan terhadap warga MBR terlebih dahulu sebelum bekerja di tempat itu.
Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Warga belajar menjahit di Rumah Padat Karya di Jalan Kyai Abdullah No 17, Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/5/2022). Pemkot Surabaya menggunakan aset sejumlah bangunan miliknya menjadi Rumah Padat Karya yang difungsikan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan membuka sejumlah unit usaha serta melakukan pelatihan-pelatihan terhadap warga MBR terlebih dahulu sebelum bekerja di tempat itu.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, terus mengembangkan rumah padat karya khususnya yang berada di Jalan Nias No. 110 Kecamatan Gubeng."Rencana ke depan, kami akan buka laundry dan sentra batik, sekaligus ada desainernya di rumah padat karya. Jadi, warga yang membeli kain batik dan ingin model seperti apa, akan dijahitkan dan hasilnya akan menjadi baju siap pakai," kata Camat Gubeng, Eko Kurniawan Purnomo di Surabaya, Senin (20/6/2022).

Eko mengatakan, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mengelola dan memanfaatkan aset milik Pemerintah Kota Surabaya berupa bangunan rumah untuk pemberdayaan ekonomi. Para MBR itu mengolah Rumah Padat Karya Viaduct Gubeng menjadi tempat usaha dan bisnis. Viaduct Gubeng dimanfaatkan untuk pemberdayaan beberapa unit usaha mulai dari barbershop atau pangkas rambut, coffee shop, cuci motor dan mobil itu, ramai dikunjungi oleh anak-anak muda dan keluarga.

Baca Juga

Bahkan dalam satu hari, pendapatan Viaduct Gubeng mampu mencapai Rp 3 juta.Menurut Eko, Rumah Padat Karya Viaduct Gubeng telah menyerap 20 tenaga kerja dari MBR. Dia berupaya untuk terus berkomitmen dalam memenuhi kebutuhan tambahan penghasilan dari para MBR."Selain para pengunjung, kami juga terus mengundang berbagai pihak untuk datang ke Rumah Padat Karya. Per minggunya, untuk sementara tiap MBR mendapat Rp500 ribu. Jika ditotal dalam satu bulan, maka satu MBR mendapat penghasilan sebesar Rp2 juta," katanya.

Eko mengaku optimistis, pendapatan Rumah Padat Karya Viaduct Gubeng bisa terus meningkat. Apalagi,  kegiatan operasional dan manajerial Rumah Padat Karya Viaduct Gubeng dikelola secara mandiri oleh para MBR."Kami juga memiliki tim pendamping, baik dari segi manajemen, keterampilan memasak, barista, barber, hingga cuci mobilnya," ujar dia.

Eko tak memungkiri, bila terdapat warga MBR yang lainnya belum mendapat pekerjaan, pihaknya pasti akan menampung untuk menjadi tenaga kerja di Rumah Padat Karya Viaduct Gubeng."Kami lihat kesungguhan mereka, kemudian kami akan mengadakan wawancara kerja. Yang penting niat bekerja, karena kami menyediakan pelatihan dan pendampingan," kata dia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebelumnya mengatakan, tidak selamanya warga MBR mengandalkan bantuan langsung tunai (BLT). Untuk itu, kata dia, Pemkot Surabaya saat ini getol memberdayakan MBR melalui pemanfaatan aset sehingga mereka diharapkan ke depan bisa mandiri dan sejahtera.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement