Rabu 04 Mar 2020 10:10 WIB

Sarjana Barat Akui Kepakaran Cendekiawan Muslim Ibnu Rusyd

Kontribusi Ibnu Rusyd untuk peradaban Barat tak bisa dinafikan.

Kontribusi Ibnu Rusyd untuk peradaban Barat tak bisa dinafikan. Ibnu Rusyd atau Averroes, dari detail lukisan Triunfo de Santo Tomás, karya artis Florence abad ke-14 Andrea Bonaiuto.
Foto: Wikipedia
Kontribusi Ibnu Rusyd untuk peradaban Barat tak bisa dinafikan. Ibnu Rusyd atau Averroes, dari detail lukisan Triunfo de Santo Tomás, karya artis Florence abad ke-14 Andrea Bonaiuto.

REPUBLIKA.CO.ID, Berita tentang kepakaran Imam Ibnu Rusyd diakui oleh para cendekiawan Barat. Pengakuan terlontar dari seorang pemikir ternama, George Sarton. Ini tentang sosok filsuf Muslim, Ibnu Rusyd. Bagi Sarton, Ibnu Rusyd merupakan filsuf Muslim terbesar di Barat. 

Lebih lanjut, dia memperpanjang pujiannya terhadap Ibnu Rusyd yang dianggap sebagai salah satu terbesar dari Abad Pertengahan. Bahkan, Etienne Gilson mengungkapkan, pemikiran Abul Walid Mohamamd ibnu Rusyd, nama panjang Ibnu Rusyd, yang berbeda pada masanya melahirkan gejolak intelektual yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga kemudian mampu mengubah pemikiran sosial di Abad Pertengahan Islam dan Latin-Kristen.

Baca Juga

Di sisi lain, pemikirannya menjadi pemicu terjadinya gerakan renaisans yang selama ini diakui sebagai tonggak penting dalam sejarah peradaban Barat.

Dan sanjungan, seakan tak pernah terhenti dari para pemikir Barat. Cendekiawan Roger Bacon menempatkan Ibnu Rusyd setelah filsuf Muslim lainnya, Ibnu Sina dan filsuf Yunani, Aristoteles. Sejak kecil, Ibnu Rusyd yang lahir pada 1126 Masehi di Kordoba, telah akrab dengan tradisi intelektual. Ayahnya merupakan seorang hakim. 

Kakeknya juga seorang hakim yang merangkap sebagai imam masjid Kordoba. Selagi dini, dia telah mendapat didikan dan latihan. Dia tertarik dengan beragam ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran.

Ketertarikan itu akhirnya mengantarkan Ibnu Rusyd menjadi seorang dokter. Dalam bidang ini, pamornya juga cemerlang. Dia menuangkan pemikirannya di bidang kedokteran melalui ensiklopedia medis yang berjumlah tujuah volume. Karya tersebut berjudul Kitab al-Kulliyat fil Tibba. Karya tersebut menjadi rujukan dan bahan ajar di universitas-universitas Eropa sampai abad ke-18. 

Ibnu Rusyd yang sarat ilmu, bahkan ditarik pula oleh penguasa untuk berperan di bidang pemerintahan. Dia ditunjuk sebagai penasihat khalifah. Namun, dahaga ilmunya tak pernah terpuaskan. 

Di sela-sela menunaikan tugasnya sebagai seorang pegawai pemerintah, dia tertarik mendalami filsafat. Ibnu Rusyd menapak mantap di dunia filsafat. Dia menuangkan pemikiran-pemikirannya. Dia awali dengan menuliskan komentar mengenai pemikiran para filsuf, di antaranya adalah pemikiran Aristoteles.

Filsafat yang dikembangkan Ibnu Rusyd, berusaha mensintesis pemikiran Islam dengan pemikiran filsafat Yunani. Tak heran jika kemudian, komentar-komentarnya terhadap filsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani. Karya kedua filsuf itu pun menjadi sumber pengajaran.

Ini dilakukan di sejumlah universitas di Eropa seperti Universitas Naples, Paris, Bologna, dan Padua. Dengan demikian, pemikiran Ibnu Rusyd menyebar luas ke seluruh belahan Eropa. Pada intinya, Ibnu Rusyd menekankan penalaran yang mendalam saat menelaah sesuatu.

Ibnu Rusyd menyatakan, untuk mencapai pencerahan, seseorang harus menggunakan akalnya. Menurut pandangannya, bentuk ibadah yang paling mulia manusia adalah mempelajari keberadaan Allah SWT melalui karya-karya atau hasil ciptaan-Nya dengan menggunakan akal pikirannya.

Dalam ranah pemikiran, ide-ide Ibnu Rusyd menjadi kian populer. Terutama karena terjadinya polemik antara pemikirannya dengan pemikiran cendekiawan Muslim yang juga ahli kalam, Al Ghazali. Perbedaan pandang antara kedua Muslim yang masyhur itu menjadi tema menarik yang banyak dibicarakan di abad pertengahan.

Al Ghazali menyatakan, segala sesuatu merupakan hasil intervensi Ilahi secara terus-menerus. Setiap hubungan sebab-akibat merupakan sekunder. Tetapi, bagi Ibnu Rusyd, Ilahi merupakan penyebab utama terjadinya sesuatu. Namun, ada juga hal-hal yang terjadi yang bisa dipikir secara logika. 

Menurut Ibnu Rusyd, penyangkalan terhadap hal-hal yang masuk akal menyiratkan penolakan terhadap pengetahuan dan penolakan terhadap pengetahuan berakibat bahwa apa-apa yang ada di dunia tidak dapat benar-benar diketahui. Maka, wajar bila Etienne Gilson menyatakan Ibnu Rusyd telah menjadi pelopor rasionalisme.

Dalam karyanya yang berjudul  Reason and Revelation in the Middle Ages, Gilson mengatakan, pemikiran filsafat Ibnu Rusyd merupakan rasionalisme murni, jauh sebelum berkembangnya pemikiran serupa saat renaisans di Italia. ‘’Rasionalisme telah lahir di Spanyol dalam pikiran seorang filsuf Arab.’’

Menurut Gilson, saat Ibnu Rusyd meninggal pada 1198 Masehi, dia mewariskan pemikirannya kepada para penerusnya. Ibnu Rusyd, kata dia, selalu menegaskan bahwa penggunaan akal atau logika merupakan hal penting dan ini tak bertentangan dengan keimanan.

Dalam karyanya yang berjudul Harmony of Philosophy and Religion (Fasl al-M'aqal), Ibnu Rusyd mempertahankan posisinya, yang dia sebut sebagai harmoni antara kebenaran, filosofis, dan teologis. Jadi, menurutnya, kebenaran filsafat tidak bertentangan dengan agama.

Lalu, pemikiran Ibnu Rusyd tak hanya dominan di tempat dia lahir, yaitu Kordoba, Spanyol. Namun, pemikirannya menembus batas geografis menuju ke berbagai wilayah di Eropa. Dengan cepat, Averroisme,  para pemikir Barat menyebut paham pemikiran Ibnu Rusyd, menjalar ke segala arah.

Dari akhir abad ke-12 sampai akhir abad ke-16 Averroisme tetap menjadi subjek pemikiran yang dominan di berbagai universitas. Kajian terhadap pemikiran Ibnu Rusyd seakan tak pernah henti meski banyak kritik yang menghantam pemikiran-pemikiran cendekiawan Muslim itu.

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement