Rabu, 16 Jumadil Akhir 1435 / 16 April 2014
find us on : 
  Login |  Register
Minggu, 12 Agustus 2012, 09:35 WIB

Meneladani Kesederhanaan Abu Dzar Al-Ghifari

.free-extras.
Gurun pasir (ilustrasi)
A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, Abu Dzar datang tergopoh-gopoh ke Makkah. Ia mencari Rasulullah. Abu Dzar sudah berjalan dari negeri bernama Ghifar menuju Makkah. Ghifar adalah suatu tempat yang sangat jauh dari Makkah. Tak ada yang bisa menandingi jauh nya Ghifar.

“Kamu dari mana?” tanya Rasul ketika Abu Dzar menemuinya. Abu Dzar ingin menemui Rasul hanya ingin menyatakan keislamannya. “Saya dari Ghifar,” kata Abu Dzar.

Rasulullah takjub sekali dengan Abu Dzar. Agama Islam yang dibawanya sampai hingga negeri Ghifar yang sangat jauh. Abu Dzar menyatakan memeluk Islam. Ia merupakan orang-orang yang memeluk Islam pertama ka li. Ketika itu, Nabi berdakwah dengan sembu nyi-sembunyi. Tapi, tak ada kata sembunyi dalam kamusnya.

Ia langsung menyatakan keislamannya. Ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak menyatakan keislamannya. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah,” teriak Abu Dzar.

Teriakan itu menentang kesombongan kaum kafir Quraisy. Akibatnya, Abu Dzar disiksa. Orang-orang memukulinya. Berita dipukulinya Abu Dzar akhirnya sampai ke telinga paman nabi. “Anda semua pedagang. Ia Bani Ghifar. Apakah kamu tidak takut orang-orang Ghifar akan merampok kamu nanti?”

Orang-orang berhenti memukuli Abu Dzar. Abu Dzar lalu kembali ke Ghifar. Kepada penduduk Ghifar ia menceritakan tentang Nabi Muhammad. Penduduk Ghifar banyak yang memeluk Islam.

Abu Dzar memeluk Islam dengan taat. Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan. Ia berdakwah agar para pembesar bersikap dermawan dan tidak menumpuk kekayaan. Ia mengajarkan hidup sederhana dan tidak boros. Ia menyerukan agar tidak berlaku curang dalam mengumpulkan harta.

Nama Abu Dzar terkenal. “Beritakan kepada penumpuk harta, mereka akan disetrika dengan setrika api neraka,” kata Abu Dzar. Kalimat itu menjadi dakwah khas Abu Dzar.

Abu Dzar tetap hidup dengan kesederhanaannya. Ia masih memakai baju usang. Abu Dzar selalu bersyukur dengan semua pemberian Allah. Ia sangat sederhana dan tidak cinta dunia.

Sumber: disarikan dari karya Khalid Muh Khalid dalam buku Karakteristik Peri Hidup Sahabat Rasulullah.

Reporter : Dwi Murdaningsih
Redaktur : Heri Ruslan
3.569 reads
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda
Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur(HR. Thabrani)
Topik: Salam Ramadhan
Tweet: #RAMADHANwithROL